Diskusi Menteri Lingkungan Hidup dengan Comestoarra terkait Bahan Bakar Terbarukan

Sabtu, 22 Februari 2025.
Tuhan tidak menciptakan sesuatu yang akhirnya menjadi sia sia. Termasuk apa yang disebut sebagai "sampah". Tuhan memberikan manusia akal dan pikiran. Oleh karenanya tugas manusia adalah berpikir, belajar dan mencoba, tidak jatuh dan mundur ketika gagal dari proses pembelajaran dan percobaan, dan tentu harus terbuka pada setiap masukan dari para pakar/ahli/guru. Sampah yang mungkin sia sia dan di sia sia kan, Insya allah akan menjadi material yang berguna. Kenapa berguna? Karena bila menyebutnya berharga, rasanya terlalu banyak perdebatan.

Selanjutnya, yakinlah bahwa Tuhan menciptakan tumbuhan yang hijau untuk menjadi api. Ternyata setelah dipikirkan, sampah organik dan residu biomassa lah yang dominan merusak bumi. Dekomposisi sampah jenis ini melepaskan gas methana yang 28 kali lebih berbahaya dari karbondioksida. Tidak sampai sana, sampah jenis itulah yang membuat lahan TPA terbakar. Belum lagi lindinya. Belum lagi baunya. Belum lagi limbah perkebunan dan pertanian yang terbakar atau pun dibakar.

Bapak Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Hanif Faisol Nurofiq menyatakan akan menutup TPA yang sudah penuh di Indonesia. Maka solusi pengolahan sampah di sumbernya adalah kunci agar permasalahan sampah dapat diatasi. Tapi langkah ini pasti akan "dihadang" dengan pertanyaan yang klasik, "kemana produknya dijual?" , "siapa offtakersnya?" , "berapa tipping fee nya?" dan lain sebagainya.

Sampah adalah tanggung jawab. Bukan "offtakersku tanggung jawabmu agar aku membeli teknologimu". Bukan juga "tipping fee yang engkau berikan untuk ku adalah salah satu cara untuk menyolusikan sampah ku".

Dari kalimat di atas, kalau yang dicari adalah "cuan", maka hal yang harus dilakukan para penghasil sampah adalah memanfaatkannya menjadi bahan bakar. Yang dilihat bukan "berapa rupiah produk sampahnya?" tapi "berapa rupiah hasil akhirnya pemanfaatannya terjual?"

Sebagai contoh pemanfaatan bahan bakar berbasis sampah untuk memasak dengan kompor biomassa. Secara sederhana, kompor biomassa bisa digunakan minimal goreng pisang. 1 pisang goreng harganya Rp 1.000. 1 tandan bisa menghasilkan kira kira 100 pisang goreng. Bila terjual habis, maka pendapatannya adalah Rp 100.000. Padahal untuk menggoreng pisang, hanya dibutuhkan 1,5 kg bahan bakar berbasis biomassa. Biaya produksi bahan bakar ini rata rata di 600-700 per kilogram. Jadi kalau orientasinya "kemana produk (bahan bakar berbasis sampah) dijual?" ya pendapatannya hanya maksimal Rp 1.000 (Biaya produksi + operasional + untung). Kalau sedikit kreatif, ya bisa dapat Rp 100.000. Dikurangi beli pisang, minyak, tepung, dan operasional, kira kira Pendapatan bersihnya bisa Rp 35.000. Itu baru 1 tandan pisang. Bagaimana kalau ada 10 tandan pisang?

Contoh lainnya, pemanfaatan bahan bakar berbasis sampah domestik untuk dikonversi menjadi listrik dalam skema distributed hybrid renewable energy for community solutions (DHYRECS). Ingin tahu pemanfaatannya seperti apa? Silahkan kunjungi video ini: https://www.youtube.com/watch?v=lMIWel6tFek