"Formasi Sepak Bola" PUSKOPAS dan Comestoarra
Assalamualaikum Wr Wb.
Sambil menikmati hujan, tiba tiba terbersit cita-cita. Cita cita itu bisa didominasi khayalan, bisa didominasi oleh kenyataan, bisa juga gabungan dari keduanya. Saya mencoba mengilustrasikan cita cita yang dimaksud dalam skema formasi sepak bola. Ini hanya intermezo saja, tanpa mengabaikan tim PUSKOPAS dan tim Comestoarra yang lain.
Tapi kira kira seperti ini:
- Made Brunner (nomor punggung 12): Sebagai praktisi dan akademisi di bidang lingkungan dan ekonomi sirkuler, beliau akan mengawal "gawang" PUSKOPAS dan COMESTOARRA dari "serangan-serangan" pertanyaan terkait aspek lingkungan, keekonomian, serta aspek sosial. Tugasnya menjaga gawang agar tidak “kebobolan”, baik dari aspek regulasi dan hukum maupun dari aspek teknis dan non teknis yang sering kali menjadi perdebatan;
- Rizki Wisnuaji (nomor punggung 19) dan Bapak Ahmad Aguswin (nomor punggung 21): Mereka akan berkolaborasi seperti layaknya center back di lini pertahanan. "Serangan-serangan" yang menuju gawang Bapak Brunner, harus diantisipasi terlebih dahulu oleh ahli teknik informasi dan juga arsitektur ini. Mereka berdua juga akan membaca permainan lawan, menghalau “bola” liar, dan mendistribusikan "pesan" ke tim internal agar tetap dalam kondisi yang kondusif;
- Eep Sukaryo (nomor punggung 2) dan Kang Mukarom (Nomor Punggung 3): Seperti layaknya Maldini dan Cafu di AC Milan di era 1990an dan 2000an, mereka akan membantu penyerangan juga pertahanan. Sebagai bendahara di PUSKOPAS, mereka berdua akan mengelola ritme “permainan” agar semua rencana dapat terlaksana dengan baik serta sesuai skenario. Selain itu, kedua orang ini mampu menjadi jangkar di lini tengah tim sehingga meminimalisir “serangan” ke jantung pertahanan. Keberadaan keduanya juga penting untuk mendistribusikan “bola” kepada pemain tengah dan striker sehingga PUSKOPAS dan COMESTOARRA dapat mencetak goal (project);
- Lalu Aprian (nomor punggung 11) dan Juni Setiawan (nomor punggung 7): Mereka akan berperan layaknya Ryan Giggs dan David Beckham di Manchaster United pada era 2000an. Tugas utamanya memberikan umpan kepada playmaker dan striker agar mudah mencetak goal (project). Dalam keadaan tertekan, keduanya akan membantu lini pertahanan agar solid sehingga meminimalisir blunder dan kebobolan;
- Achmad Rizal (nomor punggung 8) dan Ayu Dilla (nomor punggung 5): Keduanya akan menjaga keseimbangan tim, baik dari sisi teknis dan non teknis. Mereka akan membaca (baca: observasi dan analisa) situasi lapangan, sehingga bisa memberikan pesan-pesan yang positif untuk melakukan penyerangan dan pertahanan. Selain itu, posisi mereka yang sentral (sebagai pemain tengah) akan sangat objektif menyingkronkan kondisi pemain depan (playmaker dan striker) dengan pemain sayap kanan dan kiri, serta lini pertahanan. Mereka juga mampu menjadi penyeimbang komunikasi di internal tim, baik saat menyerang ataupun bertahan;
- Arief Noerhidayat (nomor punggung 4) dan Ibu Siti Maesaroh (nomor punggung 10): Mereka akan berkolaborasi mengawal penyerangan PUSKOPAS dan COMESTOARRA agar mencetak goal (project). Arief Noerhidayat lebih banyak berperan sebagai playmaker, sementara Ibu Siti Maesaroh akan fokus sebagai striker yang siap berhadapan langsung dengan para pemain bertahan lawan dan juga penjaga gawang.
Demikian tulisan iseng iseng bin ngalor ngidul ini. Intinya, dalam setiap kolaborasi, suatu tim tidak bisa mengandalkan satu, dua, atau beberapa individu. Semua harus bersinergi, berperan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Masalah sampah di Indonesia, khususnya di Jawa Barat amat pelik. Semakin mumet kalau pembahasannya teknis melulu. Padahal urusan sampah bukan sekedar urusan teknis. Tapi banyak aspek, termasuk sosial, hukum dan regulasi, serta pembiayaan. Banyak yang menjadikan urusan sampah sebagai proyek. Atas nama proyek, maka bukan kebersihan yang menjadi hal utama, tapi masalah ekonomi (baca: duit). Tapi yah, setiap masalah butuh solusi. Dan setiap solusi butuh duit. Tapi di atas duit, ada hal yang lebih krusial, yaitu "DO IT"! Kalau menunggu proyek sampah yang skalanya besar, apalagi memasang teknologi di Tempat Pembuangan Akhir atau Tempat Pembuangan Sementara yang notabenenya membutuhkan waktu dan biaya untuk memulainya, kenapa kita tidak menyolusikan sampah dari skala kecil? Ketika kita "DO IT" maka tak lama hadirlah duit. Banyak yang bilang "ahh recehan". Tunggu dulu, recehan tapi cash, lebih bermakna daripada ratusan juta tapi cuma "diatas kertas". Upps jadi curhat deh.
Sebagai orang yang pernah belajar jurnalistik dan juga mendalami ilmu supply-value chain management, saya sih percaya dengan commutative law of algebra. 1 x 1.000 = 1.000 x 1. 1 ton sampah yang disolusikan di 1.000 lokasi, sama saja dengan menyolusikan 1.000 ton sampah di 1 lokasi. Perbedaannya, kalau yang 1.000 x 1, mungkin ketika "ketok palu" hari ini, pelaksanaannya baru 2-3 tahun lagi. Ini yang agak repot. Kalau 1 hari sampah di TPA adalah 100 ton, dikali 365 hari, dikali 2 tahun, sampah yang menumpuk sudah 73.000 ton. Belum lagi dihitung sampah yang ada di TPA 5-10 tahun sebelumnya. Menurut saya sih kurang logis yah. Tapi bila menyelesaikan sampah 1 ton di 1.000 lokasi, dan pada saat yang bersamaan "memproses" sampah di TPA yang sudah 5-10 tahun bahkan mungkin sudah lebih dari 20 tahun, maka Insya Allah sampah bisa selesai. Dari sisi supply chain management, menyetop rantai pasok sampah segar ke TPA dan memprosesnya secara komunal, sudah bisa membantu menyolusikan sampah dan tidak lagi membebani TPA kok. Kalau sampah segar langsung diproses, apapun itu metodanya, pasti jauh lebih bermanfaat dan memiliki nilai. Ini yang perlu kita identifikasi aspek value chain management-nya.
Mau tau lebih lanjut tentang hal ini? Yuk ikuti pelatihan yang diselenggarakan PUSKOPAS bersama COMESTOARRA. Untuk registrasi silahkan melalui link berikut ini https://comestoarra.com/toss-workshop-jawa-barat.
Mudah mudahan bisa menginspirasi sehingga cita cita Indonesia bersih, Jawa Barat bersih bisa terealisasi. Agama juga mengajarkan kita untuk bisa memulai sesuatu yang kecil dan sederhana. Maka, mari kita mempraktikkannya. Minimal memilah sampah sejak di rumah. Yang organik diproses di rumah. Bisa buat lubang biopori, bisa juga ditaruh di box bambu untuk dilakukan biodrying. Yang non organik silahkan diberikan kepada petugas pengangkut sampah di lingkungan rumah kita.
Selamat berakhir pekan,
Salam hormat,
Arief Noerhidayat