Simulasi Makan Siang Gratis Ala Startup Company Comestoarra
Latar Belakang
Sejak 2021, kami mengembangkan KOMVOR biomassa. Kabupaten Ende adalah sejarah pengembangan KOMVOR yang kami desain menggunakan sistem Top Lit Up Draft (TLUD) Gasifier. Agar diterima masyarakat dan bermanfaat secara meluas, kami melakukan riset sosial. Singkat cerita, kami membuat KOMVOR ini dengan material semen. Kearifan lokal dan harga menjadi kata kunci kesuksesan KOMVOR ini. Bahkan KOMVOR ini didukung oleh pemerintah Selandia Baru melalui pendanaan HEF.
2022 Kami bertemu dengan Pak Fadjar Goembira, peneliti dan pengajar dari Universitas Andalas. Setelah diskusi panjang lebar, akhirnya start up kecil bernama comestoarra ini bisa bekerjasama dengan kampus negeri di wilayah Sumatera Barat tersebut. Kerja sama ini memiliki tujuan yaitu "bagaimana teknologi mampu membantu aktifitas manusia". Bukan sebatas "canggih canggihan", tapi bermanfaat. Banyak yang bilang, "ahh ngapain bikin komvor dari semen? primitif amat!". Sampai akhirnya comestoarra dan Universitas Andalas melakukan sosialisasi dan edukasi. Bukan dilakukan di dalam kelas, tapi dilakukan di ruangan terbuka sambil masak makanan nusantara. Memang budaya "nongkrong/ngariung/botram" bisa menyatukan hati dan pikiran, sehingga perlahan KOMVOR mulai diterima.
KOMVOR dan Makan Siang Gratis Bagian #1 Prabowo Subianto
Sebagai start-up company, tentu kami harus mendukung program pemerintah baru (periode 2024 - 2029) dibawah pimpinan Bapak Prabowo Subianto. Salah satunya #makansianggratis. Ini bukan tentang memihak program pemimpin #indonesia terpilih yang akan dilantik pada Oktober 2024. Tapi mencoba memberikan masukan agar maksud dan tujuan program ini bisa membawa pada kesejahteraan generasi penerus bangsa.
Poinnya, bilamana program makan siang gratis dijalankan, ide dari kami (comestoarra) adalah meminimalsir bahkan meniadakan penggunaan gas LPG untuk memasak. Justru program makan siang gratis harus bisa mengintegrasikan #sustainabledevelopmentgoals nomor 1, 2, 3, 5 7, 8, 10, 12, dan 13. Secara esensi, makan siang gratis akan menyasar pada SDG nomor 2 (menghapus kelaparan). Kalau masyarakat Indonesia bisa makan, apalagi dengan menu makanan yang "4 sehat 5 sempurna", maka akan berdampak pada SDG nomor 3 (kesehatan yang baik). Dua poin ini sangat fundamental untuk bisa mencapai SDG nomor 5 tentang kesetaraan, khususnya kesetaraan gender. Laki laki, perempuan, anak anak, bisa mendapatkan makanan dan gizi yang laik.
Bicara tentang makan siang gratis, maka yang harus dipikirkan bukan hanya bahan baku makanan dan menu makanan apa yang akan disajikan. Pelaksana program makan siang gratis harus bisa memikirkan ketersediaan energi untuk memasak. Pertanyaannya, apakah kita akan menggunakan bahan bakar gas untuk bisa menyediakan puluhan hingga ratusan juga masyarakat Indonesia?
Sebagai start-up company yang berkecimpung di sektor pengelolaan sampah organik dan residu biomassa menjadi bahan bakar terbarukan padat, sepertinya program makan siang gratis ini bisa berhubungan dengan SDG nomor 7 (energi bersih dan terjangkau). Negara kita kaya akan material organik dan residu biomassa yang bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar terbarukan. Bila material tersebut tidak diolah, maka akan terus menggunung di lahan kosong (sebut saja landfill). Padahal material ini bisa terdekomposisi sehingga melepaskan gas methana yang 28 kali lebih berbahaya dari pada karbon dioksida. Sebagai informasi, isu terkait gas methana ini sudah dibahas di negara-negara maju. Bahkan European Union sudah bergerak ke arah #MethanePolicy. Resiko lainnya adalah potensi kebakaran hutan, lahan pertanian, dan lahan perkebunan. Sebagai negara tropis, residu biomassa dari ketiga sektor ini sangat berlimpah. Kalau kemarau tiba, bukan tidak mungkin material ini dilahap oleh "si jago merah".
Bila material ini dimanfaatkan, misalnya sebagai bahan baku energi untuk kompor biomassa, maka #SDGs nomor 1 (pemberantasan kemiskinan), 8 (kerja layak dan pertumbuhan ekonomi), dan 10 (pengurangan kesenjangan) bisa diwujudkan. Secara sederhana, melalui program makan siang gratis, seyogianya pengolahan sampah organik dan residu biomassa menjadi bahan terbarukan padat hingga pemanfaatanya akan melibatkan masyarakat dan Usaha Kecil Menengah. Dari sini, maka tercipta lapangan kerja baru, dimulai dari pembuatan mesin-mesin pengolahan sampah organik dan residu biomassa, transporter, hingga para pembuat kompor biomassa. Belum lagi, makan siang gratis akan mempekerjakan para koki, penyedia bahan baku makanan (petani, nelayan, peternak), hingga tukang sayur keliling. Lalu bagaimana dengan SDGs Nomor 12 (konsumsi yang bertanggung jawab) dan 13 (aksi perubahan iklim)?
KOMVOR dan Makan Siang Gratis Bagian #2 Prabowo Subianto
Guru kami, pak Supriadi Legino selalu meminta kami mendalami konsep commutative law of algebra yang mengatakan 1x1000 = 1000 x 1. Konsep ini sebetulnya berawal dari gagasan #listrikkerakyatan yang digagas pak Supriadi yang sudah berpengalaman di industri energi dan ketenagalistrikan selama lebih dari 40 tahun. Selanjutnya hukum aljabar yang identik dengan konsep desentralisasi ini melahirkan inovasi Teknologi Olah Sampah di Sumbernya (TOSS). Kalau terkait listrik kerakyatan premisnya adalah: “Membangun 1 megawatt di 1 lokasi sama dengan membangun 1000 megawatt di 1 lokasi”, kalau terkait TOSS: “Menyelesaikan sampah sebanyak 1 ton di 1000 lokasi sama dengan menyelesaikan sampah 1000 ton di 1 lokasi”. Atas dasar inilah, maka lahirlah Detailed Engineering Design TOSS/RDF Skala Komunal yang dipublikasikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di bawah Direktorat Jenderal yang dipimpin oleh Ibu Rosa Vivien Ratnawati dan juga pak Novrizal Tahar.
DED ini tidak lahir begitu saja. Start-up company comestoarra.com sudah melakukan uji coba di sejumlah daerah di Indonesia. Selain itu, DED ini juga merangkum hasil kajian kami di kabupaten Ende tentang bagaimana sampah dapat diolah menjadi bahan bakar untuk co-firing di PLTU dan juga sebagai bahan baku substitusi minyak tanah dan kayu bakar untuk memasak. Singkat cerita, Listrik Kerakyatan dan TOSS berhasil berkontribusi pada dekarbonisasi melalui transisi energi.
Lalu bagaimana commutative law of algebra bekerja di program makan siang gratis - nya pak Prabowo Subianto?
Secara prinsip, memasak menu #makansianggratis di 1 lokasi tersentralisai untuk 1000 kepala keluarga sama dengan memasak menu makan siang gratis di 1000 lokasi untuk 1 kepala keluarga. Artinya, para “petugas” program makan siang gratis harus memberdayakan pasarinduk dan pasar tradisional untuk mendistribusikan kebutuhan 4 sehat 5 sempurna kepada masyarakat. Yang paling mudah adalah melalui tukang sayur keliling yang masih tetap eksis, baik di wilayah perkotaan dan pedesaan. Kalau mau sedikit modern, gunakan saja aplikasi transportasi dan logistik yang sudah ada saat ini. Misalnya, aplikasi si hijau tua, si hijau muda, hingga si oranye.
Ini adalah strategi supply-value chain management yang sangat sederhana, realistis, namun sangat berdampak positif bagi masyarakat luas. Dalam hal ini, peyediaan bahan baku makanan, minuman, termasuk minyak, dll dapat terorgansir dan tercatat dengan baik. Kalau sebelumnya kepala keluarga membeli bahan baku makanan ke tukang sayur, nantinya tukang sayur yang memberi bahan baku makanan ke setiap kepala keluarga. Lalu siapa yang membayar tukang sayurnya? Ya tentu saja pemerintah yang memiliki program makan siang gratis. Perhitungannya juga sangat sederhana: hanya “upah gerobak dan tenaga keliling”.
Dengan 1 kepala keluarga mendapatkan jaminan bahan baku makanan, setidaknya program makan siang ini bisa memberi makan 3-5 orang (istri dan anak anak). Menariknya, strategi ini bisa relevan dengan SDG Nomor 12 (konsumsi yang bertanggung jawab), dimana setiap kepala keluarga bisa memasak sesuai selera dan kebutuhan. Siapa tau bukan sebatas makan siang saja, tapi makan malam. Sebagai contoh: hari ini bahan baku yang didistribusikan adalah 2 ekor ayam, minyak 1 liter, bumbu masakan, sayuran dan 2 liter beras (tadi saya lupa menyebutkan bahwa konsep ini harus door to door, agar tidak “rebutan”). Maka setiap keluarga yang mendapatkan bahan baku tersebut bisa memasak menu makanan yang beraneka ragam. Contoh: soto ayam, ayam goreng, ayam kecap, sop ayam dan lainnya.
Skema Makan Siang Gratis
Sedikit intermezo: Kebayang ga sih kalau dalam 1 lokasi untuk 1000 orang, makanannya soto ayam saja? Apa semua orang suka dengan soto ayam? Jenis masakan soto ayam sendiri saja beraneka ragam. Apa tidak mubazir ya kalau ada orang yang tidak suka dengan hidangan soto ayam saja?
Lalu bagaimana skemanya? Selain menunjukkan Kartu Keluarga (misalnya), salah satu opsi yang barangkali bisa dipersyaratkan kepada penerima bahan baku makan siang gratis adalah penggunaan KOMVOR biomassa. Tentu ini akan membantu menurunkan beban pemerintah dari sisi subsidi gas LPG. Selain mengarahkan dan mengedukasi masyarakat tentang penggunaan KOMVOR biomassa, tentu masyarakat harus mendapatkan Solusi dari mahal dan langkanya gas LPG di Indonesia, khususnya di wilayah terpencil dan kepulauan. Selain itu, ada kepastian offtakers bagi para penyedia bahan bakar terbarukan padat yang diolah dari material organik dan residu biomassa. Kaitannya dengan bahan bakar terbarukan padat, tentu ada multiplier effect dari ekosistem #makansianggratis ini bagi para UMKM yang menyediakan mesin dan spare part pengolah material organik dan residu biomassa, pembuat KOMVOR biomassa, hingga tenaga kerja yang terlibat di dalamnya. Manfaat lainnya adalah, masalah sampah yang didominasi sampah organik dan residu biomassa bisa disolusikan. Artinya, pelepasan gas methana ke atmosfer bisa diminimalisr, bahkan dihentikan.
Selain itu, ketersediaan energi bersih bukan sekedar wacana. Akhirnya dari aksi ini, SDG Nomor 13 (aksi perubahan iklim) bisa terwujud dengan semangat gotong royong dan kebersamaan.
Kira kira itu saja masukan dari saya yang mewakili start-up company comestoarra.com. Mudah-mudahan tulisan saya ini bisa dibaca oleh pak Prabowo Subianto dan timnya sehingga program makan siang gratis bisa terlaksana dengan baik dan membawa manfaat yang luas. Mau liat simulasi makan siang gratis? Lihat link ini yah: https://youtu.be/GqXZLcy3d4c?