Jakarta (23/10/2026) – PT Comestoarra Bentarra Noesantarra (comestoarra) meraih Penghargaan Energi Subroto (Subroto Award) 2026 pada Jum’at 23 Oktober 2026. Comestoarra didaulat sebagai Best Community Development and Environmental Impact dengan inovasi Teknologi Olah Sampah di Sumbernya (TOSS) dan Distributed Hybrid Renewable Energy System (DHYRECS) yang telah diimplementasikan di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya area terpencil dan kepulauan. TOSS fokus pada pengolahan sampah organik dan/atau residu biomassa menjadi bahan bakar terbarukan padat (solid biofuel). Selanjutnya, solid biofuel tersebut dikonversi menjadi synthetic gas dengan mini gasifikasi yang dikembangkan comestoarra sebagai substitusi bahan bakar minyak pada generator listrik. Listrik yang dihasilkan disimpan terlebih dahulu pada baterai untuk selanjutnya dikombinasikan dengan panel surya. Konsep hibrida yang dipopulerkan sebagai DHYRECS, digunakan sebagai sumber energi listrik untuk menggerakkan mesin TOSS. Excess power-nya bisa dimanfaatkan untuk penerangan, hingga charging station kendaraan listrik. Dalam ajang Subroto Award tersebut, comestoara juga merupakan satu-satunya Usaha Kecil Menengah (UKM) yang mendapatkan penghargaan tertinggi yang diberikan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia. Sebelumnya, comestoarra berhasil meraih penghargaan (winner) ASEAN Renewable Energy Award 2026 kategori biofuel mengungguli perusahan besar dari Malaysia dan Filipina.
TOSS dan DHYRECS yang desentralistik membuat comestoarra fokus pada community development. Comestoarra bukan hanya mengimplementasikan TOSS dan DHYRECS, tapi juga melakukan pendampingan dan capacity building kepada masyarakat setempat agar mereka mampu menjadi operator dan tenaga teknis. Walaupun sebagian besar implementasi TOSS dan DHYRECS masuk dalam kategori pilot project dan pengabdian kepada masyarakat, namun keberadaannya terbukti memberikan dampak nyata dalam mendorong kemandirian energi berbasis desa, membuka lapangan kerja lokal, serta membangun model pengelolaan sampah berkelanjutan yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.
Managing Director comestoarra, Arief Noerhidayat mengatakan bahwa sebagai Usaha Kecil Menengah yang mengusung TOSS dan DHYRECS, portofolio menjadi sangat penting agar inovasi ini dapat dikomunikasikan kepada seluruh pemangku kepentingan. Dari portofolio, comestoarra mampu mendapatkan data empirik dan informasi yang akurat sehingga dapat melakukan continuous improvement.
“Saya adalah orang yang sangat percaya bahwa teknologi tanpa Sumber Daya Manusia (SDM) serta pemahaman akan kondisi sosial akan menjadi sia-sia. Oleh karena itu, pendekatan community development dan peningkatan kapasitas masyarakat lokal selalu kami tempatkan di garis depan. TOSS dan DHYRECS akan dimanfaatkan dan dijaga oleh masyarakat ketika mereka memahami, memiliki, dan merasakan manfaat langsungnya dalam kehidupan sehari-hari”, ujar Sarjana Ilmu Komunikasi Jurusan Jurnalistik Universitas Padjajaran dan Master di Bidang Business with Management dari Northumbria University, Inggris tersebut.
Arief menjelaskan bahwa dalam proses pendefinisian “manfaat” bagi masyarakat, comestoarra harus bisa mendekatkan diri dengan masyarakat, mendalami kehidupannya (investigasi), dan merasakan langsung dinamika yang terjadi di masyarakat. Selanjutnya, comestoarra menerjemahkan “manfaat” tersebut ke dalam inovasi produk dan program yang relevan dengan kebutuhan harian mereka. Sebagai contoh adalah inovasi kompor biomassa di kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur; Inovasi Perahu Listrik di Pulau Kemaro, Palembang, Sumatera Selatan; dan Implementasi TOSS DHYRECS di Restoran Bakso Lapangan Tembak Senayan Cabang Setiabudi, Jakarta.
“Kompor Biomassa mampu menggerakkan masyarakat di desa-desa sekitar PLTU Ropa untuk mengumpulkan sampah organik dan residu biomassa sebelum akhirnya diproses menjadi solid biofuel untuk co-firing. Perahu listrik dihadirkan sebagai solusi kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk transportasi sungai, dimana pengisian daya baterai perahu listrik tersebut menggunakan energi yang bersumber dari residu biomassa dan matahari. TOSS dan DHYRECS yang diimplementasikan di Bakso Lapangan Tembak Senayan Cabang Setiabudi, Jakarta menjadi solusi pengolahan sampah yang dalam regulasi pusat dan provinsi yang ada saat ini harus diolah di sumbernya”, ujar Arief terhadap beberapa proyek percontohan yang dikelola oleh comestoarra hingga saat ini.
Arief menambahkan bahwa community development dalam implementasi teknologi harus berorientasi pada keberlanjutan dan berdampak pada perekonomian lokal. Teknologi harus menjadi alat pemberdayaan yang mampu menggerakkan kemandirian masyarakat secara jangka panjang. Seringkali penerapan teknologi, khususnya pengolahan sampah dan energi terbarukan berfokus pada “pay back period” dan “internal rate of return”. Ujung-ujungnya, pasti mempertanyakan “berapa tipping fee sampah”, “siapa offtakers-nya”, “berapa tarif listriknya”, dan lain sebagainya. Padahal, kunci utamanya terletak pada transformasi perilaku dan penciptaan nilai tambah bagi masyarakat setempat. Jika masyarakat sudah merasakan manfaat ekonomis dan sosialnya secara langsung, keberlanjutan proyek akan tercipta secara mandiri tanpa bergantung pada subsidi atau skema-skema insentif semata.
“Hukum komutatif aljabar 1.000 x 1 = 1 x 1.000 perlu dipertimbangkan oleh seluruh pemangku kepentingan di Indonesia untuk tujuan dekarbonisasi dan transisi energi. Paradigma tentang economies of scale dalam pengelolaan sampah dan energi terbarukan perlu digeser menuju economy of impact dan economy of community. Proyek tidak melulu harus berskala raksasa dan tersentralisasi demi mengejar efisiensi angka di atas kertas, melainkan bagaimana inisiatif terdesentralisasi ini mampu mengakar kuat, menyerap tenaga kerja setempat, serta membangun ekosistem ekonomi sirkular yang tangguh dari tingkat tapak,” pungkas Arief.
...